#
Error
  • Error loading feed data.
ISI SOLO | Institut Seni Indonesia Surakarta
Pemenang Lomba Cipta Lambang, Mars, Hymne ISBI Sulawesi Selatan PDF Print E-mail
Written by redaktur   
Tuesday, 28 October 2014 04:06

Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta mengadakan penyerahan hadiah bagi Pemenang Lomba Cipta Lambang, Mars, dan Hymne Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI)  Sulawesi Selatan. ISBI adalah embrio dari ISI Surakarta yang didirikan di Makasar, Sulawesi Selatan. Pengumuman pemenang dilaksanakan pada hari Selasa, 28 Oktober 2014 di Gedung Penunjang ISI Surakarta pukul 09.00 wib. Dihadiri oleh Rektor ISI Surakarta beserta jajarannya, Para Juri Lomba, Dekan Fakultas Seni Pertunjukan dan Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain, Kepala Biro, Ketua LPPMPP dan Tamu Undangan.

Lomba Cipta Lambang, Mars, dan Hymne ISBI Sulawesi Selatan ini diselenggarakan untuk menjaring partisipasi masyarakat luas, sehingga ISBI Sulawesi Selatan lebih dikenal dan menjadi bagian dari masyarakat. Lomba ini diawali dengan promosi dan sosialisasi sejak awal Juni 2014. Penerimaan karya dimulai sejak tanggal 9 Juni – 9 Agustus 2014. Jumlah karya masuk sebanyak 59, yang terdiri dari 36 lambang, 12 mars, dan 11 hymne. Pleno penjurian dilakukan pada tanggal 11 Oktober 2014 di Makasar dan Dewan Juri yang menetapkan 3 karya terbaik dari masing-masing bidang lomba sebagai pemenang yakni Aris Budi Marwanto pemenang lomba Lambang, Dimawan Krisnowo Adji pemenang Mars, dan Fatta Tuturilio pemenang lomba Hymne.

Taufik Murtono, S.Sn., M.Sn selaku Ketua Panitia mengatakan, “mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kami sampaikan kepada Dewan Juri yang telah menyeleksi, memutuskan pemenang dan memberi catatan rekomendasi pada karya-karya tersebut. Tidak lupa ucapan terima kasih atas semangat semua peserta lomba yang telah mengirimkan karya, semoga pada kesempatan lain dapat meraih hasil yang lebih baik”. (news by  Anggun 28 Oktober 2014)


Sambutan dari Rektor ISI Surakarta (Foto: Anggun)

Penyerahan Hadiah Lomba Cipta Lambang, Mars, dan Hymne Institut Seni dan Budaya Indonesia

(ISBI)  Sulawesi Selatan di Gedung Penunjang ISI Surakarta (Foto: Anggun)

Last Updated on Tuesday, 28 October 2014 04:21
 
‘Without Stars’ dan ‘There We Have Been’ oleh James Cousin Company South-East Asia Tour 2014 PDF Print E-mail
Written by redaktur   
Monday, 27 October 2014 08:03

British Council dengan banggam empersembahkan James Cousins Company, sebuah kelompok tari kontemporer asal Inggris untuk para penikmat tari di Indonesia. Mereka akan membawakan karya-karya yang berjudul ‘Without Stars’ dan ‘There We Have Been’, terinspirasi dari novel Haruki Murakami, yaitu Norwegian Wood.


Grup tari kontemporer asal Inggris ini akan mempertunjukkan karya-karyanya kepada warga Solo dan Surabaya pada 29 Oktober – 2 November 2014. Tidak hanya itu, kelompok ini juga akan berbagi keahlian mereka kepada para penari di tiapkota.

Bekerjasama dengan ISI Surakarta dan Marlupi Dance Academy Surabaya, James Cousins Company akan mengadakan workshop tari bagi para mahasiswa dan murid.

Kelompok ini akan datang ke Indonesia dalam rangkaian South-East Asia Tour 2014, sebagai negara keempat yang dikunjungi setelah Filipina, Malaysia, dan Vietnam.

TENTANG JAMES COUSINS DAN KARYANYA

“Intricate, beautifully danced…. Cousins is a rising star.”
The Independent

Dalam kurun waktu yang terbilang singkat, James Cousins, seorang koreografer lulusan London Contemporary Dance School, telah memiliki banyak pencapaian lebih dari yang dapat dicapai oleh koreografer-koreografer lain dalam hidupnya. Cousins mulai berpindah secara perlahan dari sekedar menampilkan karya menjadi pencipta karya yang kemudian mendatangkan banyak permintaan dari kelompok-kelompok tari Inggris maupun luar Inggris. Pada 2011, setelah meresmikan kelompok tarinya di tahun yang sama, diamenjadi pemenang pertama Matthew Bourne’s New Adventures Choreographer Award. Cousins sudah mendapatkan kehormatan untuk mempertunjukkan kebolehannya oleh Scottish Ballet, the National Ballet of Chile dan the National Academy of Fine Arts, Singapore; juga kesempatan untuk mempresentasikan karyanya di The Houses of Parliament dan Buckingham Palace. Tidak berhenti sampai di sana, Cousins juga memperkaya pengalamannya di dunia tari dengan keterlibatannya di  Bourne’s Swan Lake.

Terinspirasi dari Norwegian Wood karya Haruki Murakami yang kelam namun sangat menyentuh, Cousins menciptakan karya Without Stars and There We Have Been.Dengan mengambil tema-tema cinta, kehilangan, dan pertemanan dari kisah Jepang serta menambahkan sentuhan unik khas Cousins, ia telah menciptakan dua buah karya yang intens dan memiliki kesan mendalam.

INFO PERTUNJUKAN DAN REGISTRASI
‘Without Stars’ dan ‘There We Have Been’ oleh James Cousin Company
South-East Asia Tour 2014

Last Updated on Tuesday, 28 October 2014 04:23
 
Pasar Seni Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Surakarta PDF Print E-mail
Written by redaktur   
Tuesday, 21 October 2014 04:02

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Surakarta telah mengadakan acara berupa kegiatan Pasar Seni  bertemakan tentang Kreativitas Tanpa Batas yang dilaksanakan pada tanggal 18-19 Oktober 2014 di FSRD Kampus II ISI Surakarta. Dihadiri oleh Rektor ISI Surakarta beserta jajarannya, Dekan Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) beserta jajarannya, Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) beserta jajarannya, Pejabat lingkungan ISI Surakarta, Tamu undangan dan Mahasiswa.

Acara ini merupakan salah satu rangkaian 50th ISI Surakarta dan merupakan Pasar Seni yang kedua di FSRD ISI Surakarta. Acara ini berkonsep pasar dalam bentuk sajian kekaryaan seni dan kreativitas seni. Acara tersebut merupakan suatu kolaborasi dari mahasiswa dan dosen beserta karyawan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) dibantu dan di backup sepenuhnya oleh Fakultas Seni Pertunjukan (FSP). Didalam serangkaian acara pasar seni terdapat juga kegiatan lomba, screening karya mahasiswa, seminar, dsb.

Ranang Agung S., S.Pd., M.Sn selaku Dekan FSRD ISI Surakarta mengatakan, "semoga kegiatan ini menjadi kegiatan agenda tahunan dan juga kami harap dukungan dari pimpinan supaya kita bisa melanjutkan acara Pasar Seni. Ini merupakan embrio seni rupa yang memiliki event meskipun sekarang skala institut, namun tahun depan insya allah bisa masuk ke skala nasional, karena event ini merupakan ajang kreativitas, event untuk apresiasi seni semua bisa berekspresi disini tanpa batas”. (news by Anggun 21/10/14)


Pembukaan Pasar Seni di Depan Dekanat FSRD ISI Surakarta (Foto: Anggun)

Salah satu perform yang ikut berpartisipasi dalam acara Pasar Seni yaitu

Paduan Suara "Devina Etnika" ISI Surakarta (Foto:Anggun)


Stand-stand Pasar Seni FSRD ISI Surakarta (Foto: Anggun)

 

 

 

Last Updated on Tuesday, 21 October 2014 06:30
 
Seminar Etnomusikologi di Manila PDF Print E-mail
Written by redaktur   
Monday, 20 October 2014 02:16

Pada tanggal  13 Oktober 2014 Prof. Santosa, Ph.D. (dosen etnomusikologi ISI Surakarta) berangkat ke Manila untuk menjadi pembicara dalam Seminar Etnomusikologi di College of Music, University of the Philippines (UP) Diliman, Manila, Philipina. Seminar ini diselenggarakan tanggal 14 – 16 Oktober 2014 di Balay Kanilaw, sebuah gedung pertemuan yang terletak di tengah kampus. Tema seminar yang dipilih adalah “Preservation Music Heritage in Asia.” Dalam seminar tersebut Prof. Santosa mempresentasikan makalah berjudul “Center for World Music at ISI Surakarta: Problems and Policies” yang dibacakan pada tanggal 15 Oktober 2014, dalam sesi “Music Sources as Documents of Cultural History” di siang hari. Di dalam sesi itu Prof. Santosa menyampaikan bagaimana sulitnya membuat kategori tentang musik khususnya ketika menghadapi rekaman komersial. Masalah yang muncul adalah terbatasnya informasi dalam produksi rekaman tersebut yang membuat pustakawan tidak mudah membuat kategori musik. Padahal, data-data tersebut sangat dibutuhkan oleh para peneliti sebagai data awal untuk membuat analisis tentang musik.

Seminar etnomusikologi tahun ini, yang diselenggarakan bersamaan dengan rapat forum komunikasi music Asia “Laon-Laon,” dihadiri oleh para pakar dari Asia seperti Singapore, Thailand, Indonesia, Philippines, Taiwan, Jepang, dan Hongkong. Hadir pula dua tokoh etnomusikolog dari luar Asia, William Summers (Darmouth College, USA), dan Klaus Kiel (Repertoire International des Source Musicales, RISM, Jerman). Kedua tokoh tersebut diundang untuk melengkapi dan memperluas pembahasan tentang musik. William Summers mempresentasikan tentang sumber-sumber informasi teater di Manila dari tahun 1848 sampai tahun 1898. Sedangkan Klaus Kiel membicarakan tentang prosedur penggunaan RISM sebagai sumber penelitian musik. Sebagai keynote speaker ditunjuk Philip Yampolsky, seorang etnomusikolog dari Amerika Serikat.

Di samping berbicara dalam kegiatan seminar Prof. Santosa juga telah merintis kerjasama antara ISI Surakarta dengan College of Music UP dan telah mencapai kesepakatan untuk menyelenggarakan program-program: joint research, pertukaran bahan pembelajaran, pelaksanaan seminar dan workshop, serta pertukaran dosen dan mahasiswa. Memorandum of Understanding (MoU) telah ditandatangi oleh Dekan College of Music UP Dr. Jose S. Buencosejo dan segera akan ditandatangi oleh Rektor ISI Surakarta. Program-program ini tinggal menunggu pelaksanaan dari kedua belah pihak. Dosen, peneliti, dan mahasiswa ISI Surakarta diharapkan aktif mempersiapkan diri untuk berpartisipasi dalam program-program yang ada. Diharapkan agar dengan melaksanakan program-program tersebut ISI Surakarta dapat mempercepat cita-citanya untuk “menuju ke World Class University” yang dicita-citaka selama ini. (new by Prof. Santosa, Ph.D 20/10/14)


Prof. Santosa, Ph.D sedang mempresentasikan makalah dalam seminar etnomusikologi

di UP Manila, tanggal 15 Oktober 2014 (Foto: Anak Charanyananda).

Prof. Ramon Santos (UP Manila) sedang menanggapi makalah Prof. Santosa, Ph.D

(Foto: Anak Charanyananda).

Foto bersama para pembicara dalam Seminar Etnomusikologi di Manila, 14-16 Oktober 2014

(Foto: Tim Laon-Laon)

Last Updated on Monday, 20 October 2014 02:28
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 3 of 44