#
Error
  • Error loading feed data.
ISI SOLO | Institut Seni Indonesia Surakarta
Peresmian Patung Gendhon Humardani PDF Print E-mail
Written by redaktur   
Monday, 04 August 2014 01:31

Institut Seni Indonesia Surakarta telah menyelenggarakan peresmian Patung Gendhon Humardani sekaligus memperingati Dies Natalis ke-50 ISI Surakarta. Peresmian tersebut dilakasanakan pada hari Selasa, 15 Juli 2014 bertempat di Teater Kapal (depan pendapa ISI Surakarta) pukul 16.00 wib.

Gendhon Humardani bagi seniman dan budayawan Indonesia angkatan tahun 1970-an hingga awal 1980-an bukanlah sebuah nama yang asing. Ia dikenal sebagai pakar dan kritikus seni pertunjukan yang sangat disegani dan berwibawa. Di tangannya kala itu, Pusat Kesenian Jawa Tengah (PKJT) dan Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) menjadi pusat unggulan kreativitas kekaryaan seni di Nusantara. Banyak seniman besar lahir di kedua lembaga itu. Rahayu Supanggah, I Wayan Sadra, AL, Suwardi, Pande Made Sukerta, Suprapto Suryodarmo adalah beberapa di antaranya.

Gendhon lahir dengan nama lengkap Sedyono Djojokartiko Humardani pada 30 Juni 1923 dari pasangan Hoemardani Djojosoedarmo dengan Soenarti. Ayahnya adalah seorang usahawan kaya dan ibunya seorang putri priyayi terpandang berpangkat abdi-dalem Bupati Putri Lebet Kasunanan Surakarta bernama Nyai Tumenggung Setjapura. R.M. Soedarsono lewat tulisannya Gendhon Humardani: Pendobrak Kesenian Jawa Yang Beku (2003) menjelaskan bahwa sejatinya Gendhon tak dibesarkan sebagai seorang seniman. Ia lebih akrab bersentuhan dengan dunia intelektual yang memegang teguh prinsip logika atau rasio dari pada ‘rasa’. Kedokteran adalah minat awalnya. Bahkan ia sempat mendapatkan beasiswa dari The British Council untuk melanjutkan studi pascasarjana di Inggris bidang anatomi. Setelah berjalan satu tahun, Gendhon meminta perpanjangan studi ke Fakultas Kedokteran. Sayang, hal itu tidak disetujui. Uniknya, ia kemudian justru mendapat beasiswa dari The Rockefeller Foundation di New York, Amerika Serikat. Bukan untuk bidang kedokteran, namun seni tari.

Sepulangnya dari Amerika, Gendhon membawa perubahan besar bagi dunia seni pertunjukan Indonesia terutama Jawa. Ia menganggap bahwa tari tradisi Jawa mengalami kebekuan kreativitas, monoton, dan bahkan membosankan. Setiap di forum seminar, si perokok berat ini senantiasa menjadi perhatian utama. Bukan semata karena ide-ide frontalnya, namun juga sikapnya yang tempramental. Ekspresi pembawaan yang meledak-ledak. Tak jarang, kata-kata kasar dan umpatan keluar dari mulutnya untuk memperjelas maksud yang hendak disampaikan. Tak hanya dunia tari, seni pedalangan dan musik karawitan juga tak luput dari semprotnya. Namun, ia bukanlah orang yang hanya pandai bicara. Konsep, teori dan gagasannya tak terhenti dalam wacana, tapi diwujudkan dalam ekspresi karya seni. Rustopo dalam Gendhon Humardani Sang Gladiator (2001), Gendhon adalah pelopor dalam penciptaan pakeliran baru yang saat ini kita kenal dengan “pakeliran padat”. Ia juga memelopori sebuah garapan drama tari tanpa dialog verbal yang kemudian kita kenal sebagai “sendratari”.

Gendhon Humardani memimpin PKJT dan ASKI (sekarang Institut Seni Indonesia –ISI-) Surakarta pada tahun 1971. ASKI di bawah kepimpinannya menjadi “kawah candra dimuka” bagi calon sarjana yang nyeniman. Sejak pukul lima pagi, para mahasiswa tari diwajibkan mengikuti olah tubuh (biasa disebut injeksi) selama dua jam lebih. Mahasiswa yang tak memiliki kemampuan fisik prima, pasti tak sanggup mengikuti kegiatan itu. Bagi mahasiswa karawitan, untuk mencapai derajad Seniman Karawitan (S.Kar.) harus menampilkan karya konser sebanyak dua kali. Konser pertama berdurasi satu jam, dan yang kedua adalah karya penuh berdurasi kurang lebih dua jam. Bandingkan, saat ini ujian tugas akhir bisa dilakukan dengan hanya 10 sampai 15 menit saja.

Gendhon terkenal “angker” di kalangan mahasiswanya. Banyak yang tak lulus dan harus melakukan ujian ulang (termasuk Ben Suharto dari ASTI Yogyakarta). Di matanya, kesalahan sedikit tak dapat ditoleransi. Hasilnya memang dapat dilihat, mahasiswa dan lulusan ASKI memiliki olah kemampuan praktik yang unggul dibanding dengan yang lain. Para penari berpostur ideal, para pengrawit mampu menghafal gending dengan qatam. Dikisahkan oleh R.M. Soedarsono kala teman-temannya dari Amerika melihat ujian tugas akhir di ASKI kala itu dan berkomentar bahwa ujian seberat itu di Eropa dan Amerika sudah laku untuk meraih gelar M.F.A. (Master of Fine Arts). Gendhon mendidik tak pandang bulu. Konon salah satu doktor baru lulusan luar negeri kala itu harus mengepel pendopo ageng hanya karena menginjakkan sepatunya di lantai pendopo.

Sadra dan Panggah

Kisah pertemuan I Wayan Sadra dengan Gendhon Humardani kiranya menarik untuk kembali diungkap. Tanggal 8 Februari 1981, komponis asal Bali itu menampilkan komposisi musik berjudul “Lad-Lud-An” untuk acara Pekan Komponis Muda II di Taman Ismail Marzuki. Sadra tergolong komponis kontemporer yang gila akan kebaruan. Di tengah pertunjukan ia berdiri, berjalan pelan-pelan ke depan panggung, tangan kanannya diangkat pelan. Tepat di hadapan penonton terdepan, ia menjatuhkan genggangan yang ada ditangannya itu. Tiba-tiba bau busuk menyeruak kepermukaan. Ternyata benda padat itu adalah telur busuk. Hal itu diulangnya terus menerus. Penontonpun menjadi panik, sesekali mau muntah, tak terkecuali juga Gendhon Humardani. Karya itu menjadi diskusi dan perbincangan yang tiada usai, bahkan bertahun-tahun sesudahnya.

Di forum diskusi setelah acara berlangsung, Gendhon dengan lantang mengkritik habis karya Sadra. Tak jarang kata-kata pedas dan umpatan keluar darinya. Semua peserta diskusi diam, terhenyak, tak terkecuali Sadra. Berbagai pertanyaan dimunculkan Gendhon tentang karya itu. Uniknya, begitu mendengar jawaban Sadra, Gendhon yang awalnya menghujat karya itu kemudian memujanya. Tak disangkanya, komponis muda asal Bali itu kuat ditakaran konsep dan mampu melahap pertanyaan Gendhon dengan jawaban yang memukau. Setelah menghujat, Gendhon membisikkan rayuan pada Sadra agar mau mengajar di ASKI Surakarta dan menjadi PNS yang saat itu gajinya untuk beli beras saja tidak cukup. Melihat keseriusan Gendhon Humardani, Sadrapun tertarik dan pindah ke Surakarta pada tahun 1981.

Gendhon Humardani, di balik kata-kata kerasnya ternyata mampu melihat potensi terpendam dalam diri seorang pemuda layaknya Sadra. Setali tiga uang, Rahayu Supanggahpun demikian. Selama kuliah di ASKI ia banyak terlibat diskusi sengit dengan Gendhon. Sering tak sepaham dengan menentang ucapannya. Hal yang tak mungkin dijumpai bagi mahasiswa lain yang cenderung nurut dan manut. Panggah dengan logika berfikir yang dimilikinya kadang membuat Gendhon tak mampu lagi membantah. Bukannya beci, Gendhon justru sangat mencintainya. Di banyak forum seminar, Panggah selalu ditunjuk untuk mewakili kampus dan Gendhon jika berhalangan hadir. Gendhon memberi banyak kesempatan bagi komponis yang mengucir rambutnya itu untuk meningkatkan kemampuan intelektual. Hasilnya, Rahayu Supanggah tak hanya dikenal sebagai musisi kelas dunia, namun juga Etnomusikolog, teoritikus dan budayawan.  Sepeninggal Gendhon, ASKI telah bermetamorfosis menjadi Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) dan kini menjadi ISI Surakarta. (News by Anggun 16/7/14)

 

Rektor ISI Surakarta saat memberikan sambutan (Foto: Anggun)

Tarian Sesaji di Teater Kapal (Foto: Anggun)

Last Updated on Monday, 04 August 2014 01:40
 
Dies Natalis Ke-50 ISI Surakarta Tahun 2014 PDF Print E-mail
Written by redaktur   
Wednesday, 16 July 2014 05:20

Institut Seni Indonesia Surakarta mlaksanakan peringatan Dies Natalis ke-50 pada hari Selasa, 15 Juli 2014 bertempat di Pendapa ISI Surakarta pukul 15.30 wib. Dihadiri oleh Dirjen Dikti (Kemendikbud), Gubernur Jawa Tengah, Pejabat TNI dan Polri, Pimpinan Perguruan Tinggi, Sekretaris Senat dan Anggota Senat, Pejabat Pimpinan lingkungan ISI Surakarta, Mahasiswa dan Dosen .

Acara ini sebagai penanda pertumbuhan ISI Surakarta dengan segala kelebihan dan kekurangannya, berupa memberikan laporan tentang Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta sebagai perguruan tinggi negeri memiliki tugas pokok menyelenggarakan Tridharma Perguruan Tinggi Negeri, akni pendidikan dan pengajaran , penelitian dan kekaryaan seni, dan pengabdian kepada masyarakat. Ketiga dharma tersebut dimaksudkan unrtuk memperluas akses dan meningkatkan kualitas program pendidikan, mengembangkan dan mengamalkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni serta meningkatkan supremasi kehidupan seni dan budaya bangsa.

ISI Surakarta dalam melaksanakan program pendidikan dilandasi oleh suatu cita-cita, yakni menjadi pusat unggulan kreativitas dan keilmuan seni budaya guna membentuk insan Indonesia cerdas, kompetitif, dan berkarakter. Dalam menggapai cita-cita tersebut ISI Surakarta memiliki misi: menyelenggarakan pndidikan, penelitian dan kekaryaan seni, dan pengabdian kepada masyarakat di bidang seni dan budaya yang bermutu di tingkat nasional, mendinamisasikan kehidupan seni dan budaya masyarakat, 3 mewujudkan tata kelola institusi yang profesional dan akuntabel, dan mengembangkan pusat informasi seni dan budaya yang akurat dan terpercaya.

Berlandaskan visi dan misi tersebut, ISI Surakarta memiliki tujuan untuk: menghasilkan lulusan yang kompeten, berkarakter dan budaya saing, meningkatkan lulusan yang kompeten, berkarakter, dan berdaya saing, meningkatkan kualitas dan kuantitas penelitian dan kekaryaan seni, mendinamisasi kehidupan seni-budaya masyarakat dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan kekaryaan seni, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sarana dan prasarana, dan sumber dana dalam suatu sistem tata kelola yang baik dan bersih, serta mewujudkan pusat informasi seni dan budaya yang akurat dan terpercaya.

Selain itu, ISI Surakarta melakukan berbagai macam hal seperti pemerataan dan perluasan akses program pendidikan ISI Surakarta, peningkatan mutu akademik, peningkatan mutu penelitian dan pengabdian masyarakat, peningkatan kesejahteraan mahasiswa, dosen dan tenaga kependidikan,kerjasama nasional dan internacional, internasionalisasi ISI Surakarta, publikasi dan pencegahan plagiarisme, peningkatan validitas PDPT melalui sistem informasi terpadu, dan peningkatan sumber daya dan manajemen,

Prof.Dr.Sri Rochana W., S.Kar., M.Hum selaku Rektor ISI Surakarta mengatakan bahwa, “berbagai hal yang telah dilakukan oleh ISI Surakarta untuk menuju “World Class University”, agar ISI Surakarta menjadi pusat kelas unggulan kreativitas dan keilmuan dalam lingkup penciptaan seni maupun pengkajian seni yang lahir dengan ilmu yang baru.” (news by Anggun 16/7/14)



Pembukaan Prosesi Senat di Pendapa ISI Surakarta (Foto: Anggun)


Prof. Dr. Ir. Djoko Santoso, MSc saat menyampaikan Pidato Ilmiah pada acara

Dies Natalis Ke-50 ISI Surakarta (Foto: Anggun)

 

Last Updated on Thursday, 17 July 2014 01:13
 
Pengajian Bulan Ramadhan ISI Surakarta 1435 Hijriah PDF Print E-mail
Written by redaktur   
Monday, 14 July 2014 03:05

Pengajian Bersama di Pendapa ISI Surakarta (Foto: Anggun)

 

Dalam rangka Bulan Ramadhan, Institut Seni Indonesia Surakarta menyelenggarakan pengajian bersama dengan Ustadz Agung Suhada. Acara tersebut dilaksanakan pada hari Jum’at, 4 Juli 2014 bertempat di Pendopo ISI Surakarta pukul 09.00-11.00 wib. Dan dihadiri oleh Rektor ISI Surakarta beserta jajaran dan seluruh staf berbagai unit kerja di lingkup ISI Surakarta.

Prof.Dr.Sri Rochana W., S.Kar., M.Hum selaku Rektor ISI Surakarta mengatakan bahwa, “bulan ini bulan suci ramadhan dimana rahmat dan berkah Allah dilimpahkan kepada kita apabila memanfaatkan bulan ramadhan ini lebih baik dan lebih maksimal. Oleh karena itu, kita menyelenggarakan pengajian ramadhan pada harini dan juga dalam rangka meningkatkan iman dan takwa kita, memperkuat iman dan takwa kepada Allah. Kita berharap di bulan ramadhan ini mendapatkan berkah yang lebih dan bisa menyelesaikan puasa ramadhan ini dengan baik. Oleh karena itu pengajian ramadhan ini, saya harapkan bisa bermanfaat bagi kita semua dalam rangka meningkatkan ketaklakan kita kepada Yang Maha Kuasa. (news by Anggun 14/7/14)

 

Last Updated on Monday, 14 July 2014 03:09
 
PENGUMUMAN SPMB 2014 PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Monday, 30 June 2014 06:21

DOWNLOAD PENGUMUMAN SPMB 2014

Last Updated on Monday, 30 June 2014 06:24
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 3 of 40